Change
January 7, 2008 by si sayah
Pulang makan di Sarbun belakang Telkom Japati kita, saya dan beben, pulang menuju warnet. Kita ngelewatin markasnya C-59. Kumaha kabarna C-59? udah lama tidak terdengar. Setelah sekarang distro dimana-mana. Dulu, kaos sangat identik dengan C-59. Jaman beben katanya yg pake C-59 ke sekolah pasti jadi perhatian, minimal dipelongkeun. Jaman saya sih ga gitu-gitu amat, tapi tetep masih terkenal. Yang bisa nandingin cuma yg buatan jogja sama bali, apa itu namanya lupa lagi…? Topik ini jadi bahan obrolan dimotor bareng beben, katanya sampe-sampe C-59 nerima orderan sablonan dari distro.. Naha jadi tibalik nya?
Cerita berlanjut waktu tes kerja di Jakarta bareng Jimmy. Karena sering bolak-balik Jakarta buat tes kerja kita udah mulai hapal sedikit peta Jakarta dan travel-travel Bandung-Jakarta. Mulai dari Baraya yang jadi idola (soalnya sesuai budget pengangguran hehe.. ), sampai Cipaganti yang sekarang udah dimana-mana. Ngomongin travel kita jadi inget 4848, masih inget? Dari jaman babeh sampe sekarang masih ada.. mobilnya pun masih ada yg jaman baheula. Kenapa 4848 ga maju kaya travel-travel yg lain kaya sekarang?
Bisa dibilang c-59 itu pelopor di dunia per-kaos-an, 4848 pun demikian. Kenapa sekarang jadi kebalik.., bukan mereka yang memimpin pasar..?
Kapikiran gimana warnet. Jadi ngobrolin itu bareng Jimmy sambil nungguin tes yg masih beberapa jam lagi. Dengan makin banyaknya warnet saya sih khawatir. Khawatir kalo tidak ada perubahan, kedepannya warnet akan ditinggalkan konsumennya.
“ini mah pilihan.. apakah warnet mau tetep mempertahankan identitasnya ato ikut perubahan.” itu analisanya Bung Jim.
Keinginan pasar warnet dulu sama sekarang tentu sedikit banyak berubah.
Meskipun bukan pelopor di dunia per-warnet-an, tapi diawal kemunculannya ini warnet emang beda, ngelawan arus. ceritanya membawa standar baru dalam dunia warnet. Dari harga aja udah berani diatas pasaran waktu itu. Tapi terbukti, dengan tidak mudah, warnet ini mendapatkan tempat yg boleh dibilang cukup bagus dikonsumen warnet bandung. Fenomenal we lah seperti Ronaldo heuheueheu.
Padahal pertamanya cuma 1, 2 , 3 orang yg pake, boro-boro nyentuh lantai 2, lantai 1 aja ngga penuh. Sampai ke masa dimana kita harus bikin waiting list. Dapet urutan ke-20 pun konsumen masih berani buat nungguin.
Itu mungkin maksud Jimmy. Apakah kita mau bertahan dan angkuh dengan identitas “bagus (good)” yang udah kita dapat (dulu), atau kita mengikuti perubahan pasar dan keinginan konsumen.
Padahal katanya good is the enemy of great. Artinya apabila seseorang menganggap prestasinya sudah baik (good) maka mereka akan terhalang untuk berevolusi memasuki kondisi yg lebih baik (great).
Jadi inget buku Change-nya Renhald Kasali. Disitu disebutkan perusahaan-perusahaan yang dulunya hebat, tapi udah tidak ada lagi sekarang. Ataupun ada tapi “hidup segan mati tak mau”.
Enslikopedi Britanica sudah diganti oleh Encarta, apalagi sekarang ada internet. Garuda Indonesia pernah dapat penghargaan “The Most Punctual Airlines” dari Bandara Schipol Amsterdam, ironisnya (2004) menutup satu-satunya rute ke Eropa yg dimiliki (yaitu Amsterdam). Industri jamu dulu rajanya Jamu Jago dan Nyonya Meneer, trus 1980-an diganti Air Mancur, dan sekarang Sido Muncul. Dulu pasar rokok dikuasai rokok putih buatan BAT (555 dan Ardath), tapi sekarang oleh rokok-rokok kretek: Gudang Garam, Sampoerna, dan Djarum.
Arie de Gaus bilang perusahaan seperti makhluk hidup, dia dilahirkan, berkembang, sakit, tua, dan dapat mati. Setelah menjadi tua perusahaan akan terkena penyakit tua. Ia bergerak lambat, renta, kusam, kurang darah, tak bersemangat dll.
Mereka yg tetap eksis adalah mereka yang berubah dan beradaptasi.
“bukan yg terkuat melainkan yg adaptif”, itu kata Charles Darwin.
Masih didalam buku Change, satu lagi yg menarik, soal Sigmoid Curve. Kurva ini menggambarkan perubahan dan perjalanan perusahaan antara diantara sukses dan waktu. bentuknya mengikuti kurva S yg tertidur.
Didalam buku tersebut dikatakan bahwa saat terbaik untuk melakukan perubahan bukanlah pada saat kita memasuki krisis. Justru seharusnya pada saat perusahaan sedang jaya. Karena pada masa itulah perusahaan memiliki percaya diri yang besar, uang yang cukup, dan SDM yang tangguh. Tetapi, biasanya perusahaan biasanya sedang asyik-asyiknya menikmati kejayaan dan keberhasilan. Perusahaan akan resistance untuk berubah. Manajemen baru tersadar ketika sudah memasuk titik B. Pada saat memasuki krisis, karyawan sudah tidak produktif, cash flow bermasalah, dan lain-lain. Pada kondisi ini lebih sulit membawa perusahaan keluar dari krisis.
Menurut saya warnet sudah melewati puncak kurvanya, dan sekarang sedang dalam kondisi menuruni kurva. Sebelum mencapai krisis, sebaiknya seperti yg dikatakan dalam buku itu segera meloncat ke kurva kedua, segera berbenah. Apakah cabang baru, usaha baru atau apapun. Semoga warnet tidak harus menunggu sampe krisis untuk berubah. Kenapa? Selain saingan semakin banyak, secara industri pun warnet banyak tantangannya. Beberapa hari yang lalu saya diberitahu tentang NTS yang sudah masuk Bandung (bisa dibaca di webnya mas eko) . Secara teknologi kita semakin dipermudah untuk mengakses internet, baik akses yang semakin murah ke rumahan ataupun untuk mobile. Untuk chatting aja kayanya sekarang ga perlu lagi ke warnet. Boleh jadi kedepannya industri warnet bisa kaya wartel.. hancur.
Mungkin Fuji Film bisa jadi contoh. Fuji harus beradu dengan teknologi yang semakin mempermudah mencetak foto. Plus sekarang bermunculan tempat-tempat ngeprint (printing-an),dari yang murah meriah sampai yang profesional pun ada. Tempat fotocopy pun sekarang sudah banyak yang memasang 1 PC komplit dengan printernya. Apabila tidak adaptif, Fuji pun akan tergusur. Cabang yang disebelah warnet pun sudah tutup tuhh..
Warnet terlalu banyak menanggung sesuatu yang bukan kewajibannya (secara finansial), jadi itu yg membuat warnet tidak lincah dan gesit bergerak menjawab segala tuntutan teknologi, pasar dan konsumennya. Disamping mungkin masih ada permasalahan-permasalahan yang lain. Yang seperti kata Jimmy, sebenarnya semua ini sudah ada dalam pemikiran para top manajemen, para bos, semoga saja. Karena Sang El Fenomeno Ronaldo pun sudah tidak laku sekarang, gosipnya mau dijual ke salah satu klub di Brazil oleh Milan hehe..
Jangan sampai warnet ini hanya jadi cerita di masa depan. Bahwa dulu pernah ada warnet bagus di daerah buah batu..
sindrom, sindrom..
orang pintar minum tolak angin…
dunia ini klo d lihat sekilas kayanya akan abadi tuk selamanya tapi klo kita sadar n mernung dunia ini ruksak
jngan sampay kita masuk kedalam politik lebih baik kita ngerti arti politik